
Kalimantan Barat menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Cadangan bauksitnya mencapai sekitar 3,29 miliar ton. Karena itu, provinsi ini bukan sekadar pemasok bahan mentah — melainkan calon pusat industri aluminium nasional.
Dorongan untuk mewujudkan potensi tersebut kini semakin kuat. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai hilirisasi bauksit perlu dipercepat. Menurutnya, pengalaman hilirisasi nikel membuktikan bahwa mengolah mineral di dalam negeri mampu meningkatkan nilai ekspor secara signifikan.
“Pemerintah perlu memperluas program hilirisasi ke komoditas lain seperti bauksit dan tembaga,” ujar Yusuf di Jakarta, Jumat (3/7).
Bagi Kalimantan Barat, peluang ini sudah mulai terwujud. Fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah telah beroperasi. Kapasitasnya mencapai 1 juta ton alumina per tahun. Selain itu, fasilitas ini menyerap sekitar 600 tenaga kerja operasional dan 1.500 tenaga kerja saat konstruksi.
Lebih jauh, Kementerian ESDM mencatat rencana pengembangan pabrik pengolahan bauksit di Kalbar. Total kapasitasnya diproyeksikan mencapai 8,5 juta ton alumina per tahun. Nilai investasinya pun tidak kecil, yakni mencapai US$6,77 miliar.
Dampaknya tidak hanya terasa di sektor industri. Sektor logistik, transportasi, dan usaha kecil di sekitar kawasan industri pun berpotensi ikut tumbuh. Dengan demikian, penyerapan tenaga kerja lokal bisa semakin luas.
Selain itu, percepatan hilirisasi dinilai akan semakin kuat jika perjanjian dagang IEU-CEPA rampung. Perjanjian tersebut berpotensi membuka akses pasar produk alumina dan aluminium Kalbar ke Eropa.
Singkatnya, Kalimantan Barat kini berdiri di persimpangan penting. Peluang sudah terbuka — tinggal bagaimana seluruh pihak bergerak bersama untuk memanfaatkannya.
Baca juga:
Wabup Kayong Utara Sambut Baik Rencana Pembangunan Pengadilan Agama Sukadana