
Melimpahnya hasil panen durian di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, justru menjadi tantangan tersendiri bagi para petani. Harga jual buah di tingkat petani turun drastis musim ini. Kondisi itulah yang mendorong Andi (29), petani sekaligus pelaku UMKM, untuk mencari solusi kreatif.
Alih-alih menjual buah segar, Andi memilih mengolah seluruh hasil panennya menjadi lempok durian — makanan khas berbahan dasar durian yang memiliki daya simpan lebih lama serta nilai ekonomi lebih tinggi.
Harga Anjlok, Biaya Angkut Tak Sebanding
Andi mengungkapkan, durian berukuran besar pada musim panen tahun ini hanya dihargai sekitar Rp5.000 hingga Rp8.000 per buah. Sementara itu, biaya mengangkut durian dari kebun di kawasan perbukitan saja mencapai sekitar Rp2.000 per buah.
“Harga durian tahun ini benar-benar sangat rendah. Padahal biaya mengangkut durian dari gunung saja mencapai sekitar Rp2.000 per buah. Kalau dijual utuh, hasilnya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” ujar Andi, Selasa (7/7/2026).
Oleh karena itu, mengolah durian menjadi produk lempok menjadi pilihan logis. Dengan demikian, nilai jual hasil panen bisa lebih optimal meski harga buah segar sedang melemah.
750 Kg Lempok dari Kebun Sendiri
Saat ini, Andi telah memproduksi sekitar 750 kilogram lempok durian. Seluruh bahan bakunya berasal dari hasil panen kebun miliknya sendiri.
Menurutnya, pengolahan hasil pertanian menjadi produk olahan merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Selain itu, usaha pengolahan lempok dinilai berpotensi membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat di Kabupaten Kayong Utara.
Bidik Pasar di Luar Kalimantan
Andi menuturkan, lempok durian asal Sukadana selama ini sudah cukup dikenal masyarakat Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak. Namun, ia berharap produk khas tersebut dapat dipasarkan lebih luas hingga berbagai daerah di Indonesia.
“Saya ingin memperkenalkan lempok durian asli Sukadana sebagai produk khas Kabupaten Kayong Utara. Harapannya, produk ini bisa semakin dikenal masyarakat di berbagai daerah, bahkan sampai ke luar Kalimantan,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan melalui promosi, pelatihan, serta membuka akses pemasaran yang lebih luas. Dengan adanya dukungan tersebut, lempok durian asli Sukadana diharapkan mampu menjadi oleh-oleh khas yang mengangkat nama Kabupaten Kayong Utara di tingkat nasional.
“Dengan adanya dukungan dari pemerintah, kami berharap lempok durian asli Sukadana bisa menjadi oleh-oleh khas yang dikenal secara luas dan mampu mengangkat nama Kabupaten Kayong Utara di tingkat nasional bahkan hingga luar Kalimantan,” tutupnya.
Baca juga:
Kuliner Kayong Utara: Identitas Rasa dari Pesisir Kalimantan