
Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara menggelar Workshop Tindak Lanjut Musrenbang untuk memperkuat strategi penanganan Anak Tidak Sekolah di Mahkota Hotel, Sukadana, Senin (19/10/2026). Workshop melibatkan perwakilan OPD se-Kayong Utara dan perangkat desa untuk memperkuat koordinasi dalam mengidentifikasi anak yang belum mengakses pendidikan.
Hanya Empat Provinsi Terpilih, Kalbar Salah Satunya
Project Manager KREASI Muhammadiyah Kayong Utara, Rezky Farnanda, menjelaskan bahwa program KREASI bermitra dengan Muhammadiyah, Artikel 33, Wahana Visi Indonesia, dan Stimulant Institute — didukung Kemendikbudristek dan Kemenag di tingkat nasional serta Dinas Pendidikan Kayong Utara di tingkat daerah.
“Tidak semua provinsi terpilih. Hanya ada empat provinsi, yaitu Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara. Khusus di Kabupaten Kayong Utara, kegiatan ini didanai oleh Global Partnership for Education yang merupakan konsorsium World Bank, UNICEF, dan UNESCO, serta disalurkan melalui DFAT Australia,” ungkap Rezky.
Data Desa Jadi Kunci Penanganan ATS
Kepala Dinas Pendidikan Kayong Utara, Jumadi Gading, menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah desa dalam pemutakhiran data Anak Tidak Sekolah karena perangkat desa memiliki pengetahuan langsung mengenai kondisi masyarakat di wilayahnya.
“Pihak desa sebenarnya lebih tahu mengenai data riil anak tidak sekolah di wilayahnya. Kita perlu melakukan kerja sama untuk validasi dan perekaman data anak-anak yang belum terjangkau pendidikan,” kata Jumadi.
Jumadi juga menegaskan komitmen Pemkab Kayong Utara terhadap pendidikan gratis yang telah dirintis sejak kepemimpinan bupati terdahulu. Ia menyebut tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal akses atau biaya, melainkan persepsi masyarakat yang menganggap lulusan sekolah tidak berbeda dengan yang tidak bersekolah.
“Pola pikir dan persepsi inilah yang perlu kita benahi bersama,” pungkasnya.