
KAYONG UTARA – Festival Literasi Budaya Kalimantan Barat resmi dibuka pada Kamis (9/7/2026) di Cafe Biva Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Mengusung tema “Menggali, Melindungi dan Melestarikan Warisan Budaya yang Tersisa”, festival ini hadir sebagai upaya merawat identitas bangsa di tengah arus era digital.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari ini diinisiasi oleh panitia yang dipimpin Kushariyanto selaku Ketua Panitia. Selain itu, festival mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan RI, LPDP, dan Dana Indonesiana, serta bersinergi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara.
Literasi dan Budaya, Dua Hal yang Tak Bisa Dipisahkan
Acara pembukaan dihadiri perwakilan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara, Heru. Turut hadir pula para narasumber, budayawan, tokoh adat, serta puluhan anak muda dan pegiat literasi lokal.
Heru memberikan apresiasi tinggi terhadap konsep festival ini. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar ajang berkumpul. Lebih dari itu, ini adalah ruang tempa kreatif yang sangat lengkap.
“Literasi tanpa akar budaya akan membuat kita kehilangan identitas. Sebaliknya, budaya tanpa sentuhan literasi modern akan membuat kita tertinggal. Melalui festival inilah kedua hal tersebut kita kawinkan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Kushariyanto menyampaikan rasa haru dan bangganya. Ia berharap kegiatan ini menjadi aksi nyata dalam menjaga warisan leluhur di tanah bertuah Kayong Utara.

Beragam Pelatihan dan Kompetisi untuk Pelajar
Para peserta festival didominasi pelajar SMA/sederajat dan masyarakat umum. Mereka akan dibekali berbagai disiplin ilmu selama pelaksanaan festival. Di antaranya Pelatihan Literasi Media dan Film, Literasi Jurnalistik, Literasi Adat Budaya Lokal, serta Literasi Sejarah Lokal Kayong Utara.
Selain pelatihan, panitia juga menggelar berbagai lomba. Lomba yang tersedia meliputi video reels, fotografi, penulisan cerpen, hingga karya jurnalistik.
Nyapat Taon Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Momentum festival ini terasa semakin relevan. Pasalnya, tradisi Nyapat Taon dari Kayong Utara baru saja sukses dicatatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).
Oleh karena itu, generasi muda diharapkan mampu mengambil tongkat estafet untuk menyuarakan budaya lokal. Dengan demikian, kekayaan budaya Kayong Utara dapat dikenal lebih luas melalui konten-konten produktif dan positif di media sosial.
Baca juga:
Kayong Fest 2026 di Pantai Pulau Datok Raikan Hari Jadi Ke-19, Angkat UMKM dan Budaya Lokal