
Upaya penanggulangan kanker di Kalimantan Barat semakin diperkuat melalui kerja sama lintas profesi antara Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kalbar dan Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) Cabang Pontianak. Kedua lembaga ini sepakat memperkuat sinergi dalam kegiatan edukasi, deteksi dini, dan peningkatan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Kolaborasi ini ditandai dengan pelantikan pengurus POI Pontianak periode 2025–2028 serta penyelenggaraan workshop bertema “West Borneo Oncology Update: From Early Detection to a Multidisciplinary Team Approach.”
Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar, Harisson, menyampaikan apresiasinya atas sinergi tersebut. Menurutnya, penanganan kanker tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan memerlukan kolaborasi lintas profesi, mulai dari dokter umum, spesialis, hingga organisasi masyarakat.
“Kanker masih menjadi salah satu penyakit dengan beban pembiayaan tinggi. Kolaborasi ini sangat penting agar upaya deteksi dini dan pengobatan bisa lebih efektif,” ujar Harisson.
Data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Online tahun 2023 mencatat, kanker payudara menjadi kasus terbanyak di Kalbar dengan 480 penderita, disusul kanker serviks sebanyak 178 kasus.
Ketua YKI Kalbar, Windy Prihastari, menyampaikan bahwa pihaknya akan aktif melakukan kegiatan promotif dan preventif untuk menekan angka kasus baru kanker. Ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar kesadaran terhadap deteksi dini semakin meningkat.
Sementara itu, Ketua POI Pontianak, Dr. dr. Manuel Hutapea, berharap kolaborasi dengan YKI dapat memperkuat layanan dan memperluas jaringan tenaga kesehatan di bidang onkologi di Kalbar.
“Kami ingin menciptakan sistem penanganan kanker yang lebih komprehensif, mulai dari pencegahan hingga pemulihan pasien,” ujarnya.
Dengan terjalinnya sinergi antara YKI, POI, pemerintah daerah, dan tenaga medis, diharapkan Kalimantan Barat mampu memperkuat sistem penanganan kanker yang terintegrasi serta menekan angka kematian akibat penyakit ini.