
Menghadapi krisis air bersih yang semakin dirasakan masyarakat Kayong Utara di tengah musim kemarau panjang, DPRD Kabupaten Kayong Utara mengambil langkah proaktif. Wakil Ketua Komisi I, Yulisman, didampingi anggota Kamiriluddin dan Rudi, mendatangi Balai Wilayah Sungai Kalimantan (BWSK) 1 Pontianak untuk menjajaki Program ABSAH sebagai solusi penyediaan air bersih mandiri bagi masyarakat.
Apa Itu Program ABSAH?
Kepala BWSK 1, M. Tahid, menjelaskan bahwa Program ABSAH — Akuifer Buatan Simpanan Air Hujan — merupakan infrastruktur penyediaan air baku mandiri dan ramah lingkungan yang digagas Kementerian PUPR. Program ini bekerja dengan cara menampung air hujan dan menyaringnya menggunakan media akuifer buatan seperti kerikil, pasir, bata merah, batu gamping, ijuk, dan arang.
Di Kalimantan Barat, program ini sudah direalisasikan di Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, dan Sintang. Untuk Kayong Utara, M. Tahid menyebut belum ada realisasi — namun membuka peluang jika proposal segera diajukan.
“Untuk daerah lain termasuk di Kayong Utara sepertinya belum, tapi silahkan coba masukkan proposal segera dan akan kita sampaikan ke kementerian,” ujar M. Tahid.
Sangat Dibutuhkan Kayong Utara
Wakil Ketua Komisi I Yulisman menegaskan bahwa program ini sangat relevan dengan kondisi Kayong Utara saat ini, terutama di tengah kemarau yang membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih.
“Setidaknya kalau ada bak penampung air di tiap desa atau dusun, ini bisa meringankan beban masyarakat terlebih di musim panas seperti sekarang,” katanya.
Anggota Komisi I, Kamiriluddin, berharap Pemkab Kayong Utara melalui dinas terkait segera menindaklanjuti program ini agar dapat diusulkan melalui Bupati ke Kementerian dan terealisasi pada tahun depan.
Baca juga:
DPRD dan Pemkab Kayong Utara Sepakat Sahkan Perda Pertanggungjawaban APBD 2025