
Kayong Utara, 26 Mei – Di tengah wilayah pesisir Desa Pelapis yang selama ini identik dengan laut dan aktivitas perikanan tangkap, sekelompok warga berhasil membuktikan bahwa budidaya ikan air tawar juga dapat berkembang dan menjadi sumber penghidupan baru bagi masyarakat. Melalui program budidaya ikan lele yang dijalankan bersama PT Dharma Inti Bersama (DIB), masyarakat tidak hanya memperoleh tambahan pendapatan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, dan optimisme serta harapan terhadap masa depan.
Salah satu kelompok yang aktif menjalankan program ini dipimpin oleh Jamri. Pria paruh baya ini merupakan Ketua Kelompok Budidaya Ikan Kolam Air Tawar di Dusun Jaya, Desa Pelapis. Bersama tiga anggota lainnya, ia memulai budidaya lele dengan berbagai tantangan. Salah satunya adalah keraguan dari banyak pihak yang tidak yakin bahwa ikan air tawar dapat dibudidayakan di daerah pesisir. Namun, kelompok yang dipimpinnya menetapkan hati untuk mencoba dan belajar bersama. “Kalau tidak dicoba, kita tidak akan pernah tahu hasilnya,” ungkapnya dalam wawancara saat panen lele pertengahan Mei ini.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Pada awal tahun 2026, Jamri bersama rekan-rekannya berhasil menghasilkan sekitar 275 kilogram lele. Saat panen kedua, hasil panen meningkat lebih dari 400 kilogram. Keberhasilan tersebut memberikan rasa puas sekaligus membangun keyakinan baru bahwa budidaya ikan air tawar dapat menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat pesisir. Peningkatan jumlah panen tentunya menambah keuntungan bersih yang didapat masyarakat yang menjalankan program budidaya ikan lele.
Keberhasilan program ini tidak terlepas dari pendampingan yang dilakukan tim CSR PT DIB. Dalam pelaksanaan siklus kedua, pendekatan pendampingan dilakukan secara lebih adaptif. Kelompok yang telah menunjukkan hasil baik diberikan ruang untuk lebih mandiri dalam pengelolaan budidaya, sementara kelompok yang masih menghadapi kendala mendapatkan pendampingan lebih intensif. Strategi ini menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas masyarakat secara bertahap agar mampu mengelola usaha secara berkelanjutan.
Selain pendampingan, faktor penting lain yang mendukung keberhasilan budidaya adalah ketersediaan pakan yang konsisten. Menurut pria yang pernah menjabat sebagai Ketua RT tersebut, selama pakan tersedia dengan baik, proses pemeliharaan ikan tidak mengalami kendala berarti. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting yang diterapkan pada setiap siklus budidaya.
Program ini juga memberikan dampak sosial yang nyata bagi kelompok masyarakat yang melaksanakan budidaya. Program ini memungkinkan dirinya tetap bekerja dan memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan keluarga untuk bekerja jauh dari rumah seperti sebelumnya. Ia bahkan mulai memiliki cita-cita untuk mengembangkan usaha budidaya secara mandiri di luar kelompok yang ada saat ini.

Ibu-ibu juga terlibat dalam proses kegiatan, di mana hasil panen ikan lele dimarinasi untuk memperpanjang masa simpan sebelum dikirim ke Pulau Penebang. Proses marinasi dan pengemasan vakum yang dilakukan Ibu-ibu membuka peluang ekonomi baru di tingkat rumah tangga di Desa Pelapis.
External Relations Manager PT DIB, Sugeng Sulistiyo, mengatakan bahwa sebagai perusahaan yang beroperasi dekat dengan komunitas nelayan, perusahaan memahami bahwa keberlanjutan ekonomi masyarakat sangat bergantung pada kondisi alam. Karena itu, PT Dharma Inti Bersama berkomitmen untuk hadir sebagai mitra pembangunan masyarakat. “Semua hasil panen ikan lele akan diserap oleh perusahaan ke Pulau Penebang. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir”.
Program budidaya lele di Desa Pelapis menunjukkan bahwa investasi sosial berbasis potensi lokal dapat berjalan dengan efektif. Keberhasilan panen yang kedua kalinya menjadi bukti bahwa masyarakat mampu beradaptasi dengan program pemberdayaan yang diberikan serta memiliki peluang untuk terus berkembang di masa depan. PT DIB sendiri berkomitmen untuk menyerap hasil produksi binaan CSR guna memenuhi kebutuhan protein hewani di kawasan Pulau Penebang yang terus berkembang.
Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya, dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027, Jumat, 10 April 2026, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kayong Utara mencapai 5,89 persen pada 2025. Pencapaian ini menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Hal ini menurutnya tidak lepas dari kontribusi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Pulau Penebang yang menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Di balik kolam-kolam sederhana yang dibangun di Desa Pelapis, tumbuh harapan baru tentang kemandirian ekonomi masyarakat pesisir. Program ini bukan sekadar tentang panen ikan, tetapi tentang keberanian mencoba, membangun kepercayaan diri, dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat setempat.
***
Tentang PT Dharma Inti Bersama
PT Dharma Inti Bersama (DIB) merupakan perusahaan yang mengoperasikan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. KIPP merupakan pusat pengolahan dan pemurnian bijih bauksit dengan teknologi Bayer untuk produksi alumina dan teknologi Hall-Heroult untuk produksi aluminium yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Kontak Media: Liston Damanik (081396712184)