
PT Dharma Inti Bersama (DIB) selaku pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) terus mendorong peran perempuan sebagai penggerak utama UMKM dan peningkatan ekonomi keluarga di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara.
Salah satu program yang dijalankan adalah pelatihan dan produksi bakso serta nugget ikan yang diikuti 64 istri nelayan dari tiga dusun. Dalam satu kali produksi, kelompok ini mampu menghasilkan sekitar 86 kilogram bakso dan 45 kilogram nugget, yang seluruhnya diserap oleh kawasan industri di Pulau Penebang sejak Desember 2025.
Selain itu, perempuan Desa Pelapis juga terlibat dalam pengolahan hasil budidaya lele. Panen perdana awal Januari menghasilkan sekitar 700 kilogram lele yang kemudian dimarinasi, dikemas secara vakum, dan dipasarkan ke Pulau Penebang. Dari kegiatan ini, sebanyak 1.040 kemasan berhasil dijual ke KIPP.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kayong Utara, Hendra Budjang, mengapresiasi konsistensi DIB dalam membina masyarakat. Menurutnya, Desa Pelapis memiliki keunggulan yang jarang dimiliki daerah lain, yaitu adanya kepastian pasar.
“Kalau kita bekerja, yang membeli sudah ada. Tinggal kesiapan masyarakatnya,” ujarnya.
Ketua Kelompok Bakso dan Nugget Ikan Desa Pelapis, Suaibah, mengatakan sebelum adanya kegiatan ini, para istri nelayan tidak memiliki aktivitas produktif saat musim paceklik.
“Dulu kalau tidak ada ikan, kami hanya di rumah. Sekarang, kami bisa tetap bekerja dan punya penghasilan tambahan. Saat bakso buatan kami terjual, kami merasa semakin semangat,” katanya.
Government Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, menjelaskan bahwa berbagai kegiatan di Desa Pelapis merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat. Program tersebut membuka peluang bagi perempuan untuk meningkatkan keterampilan dan mengoptimalkan potensi pesisir agar mampu menggerakkan UMKM dan menambah pemasukan keluarga.
“Kami menjamin hasil panen lele akan diserap perusahaan. Tidak perlu khawatir soal pemasaran,” tegasnya.
Menurut Seno, perempuan merupakan bagian penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat pesisir.
“Kami ingin memastikan para istri nelayan tetap memiliki sumber pendapatan, bahkan di luar musim tangkap. Melalui pengolahan ikan dan budidaya lele, perempuan bisa menjadi pelaku utama peningkatan ekonomi keluarga. Ini adalah bagian dari komitmen kami terhadap pemberdayaan masyarakat dan prinsip keberlanjutan,” pungkasnya.