
Pelapis, Januari 2025 – Setiap pagi dan sore, Suaka, warga Desa Pelapis, Kepulauan Karimata, Kayong Utara, punya kegiatan favorit, memberi makan lele di kolam terpal di samping rumahnya yang berada di pinggir pantai. Kolam terpal ini adalah bagian dari Program CSR Bidang Peningkatan Ekonomi yang digagas Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) bersama masyarakat setempat. “Waktu paling menyenangkan itu saat memberi pakan, rasanya kalau bisa, tiap hari kasih makan terus. Senang saja melihat ikan-ikan itu berebut.” Demikian Suaka bercerita.
Bagi Suaka, nelayan yang sejak kecil akrab dengan ombak dan jaring, kebiasaan memberi pakan bagi lele awalnya terasa asing. Namun dari rutinitas sederhana itu terjadi perubahan. Sabtu, 10 Januari 2026, rutinitas itu berbuah hasil. Setelah merawat ikan lele bersama rekan satu kelompoknya selama sekitar dua bulan, Suaka akhirnya merasakan panen perdana.
Empat kolam terpal yang tersebar di tiga dusun akhirnya dipanen. Dari kolam-kolam tersebut dihasilkan sekitar 700 kilogram ikan lele. Angka yang mungkin terdengar biasa bagi peternak besar, namun sangat berarti bagi masyarakat pesisir yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup sepenuhnya pada laut.
Bagi warga Pelapis, panen ini bukan sekadar soal kilogram dan rupiah. Ia menjadi bukti bahwa diversifikasi penghidupan, ternyata bisa diwujudkan. Di tengah cuaca laut yang kian sulit diprediksi, lele-lele di kolam terpal menjadi simbol alternatif, bahkan harapan. Suaka berdiri di dekat kolam dengan senyum yang sulit disembunyikan. Tangannya sesekali menunjuk ikan-ikan yang bergerak lincah.
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada perusahaan atas masukan dan program-program untuk masyarakat Pelapis,” ujarnya tulus. “Mudah-mudahan dengan adanya budidaya ikan air tawar di RT 3 ini bisa jadi tolok ukur bagi kawan-kawannya.”
Proses menuju panen perdana, diakuinya, tidak selalu mulus. Kualitas air yang berubah, risiko penyakit, hingga kekhawatiran ikan mati sempat membuatnya khawatir. Namun pendampingan rutin dari tenaga lapangan perusahaan menjadi penopang penting. Air kolam dipantau, pakan diatur agar tidak berlebihan, dan masalah dapat diatasi satu persatu.
“Airnya memang harus dijaga supaya tetap bagus, kadang juga ada timbul penyakit ikan,” cerita Suaka. “Tapi alhamdulillah, di kolam yang kami kelola ini ikan yang sakit cuma satu dua.”
Camat Kepulauan Karimata, Mikrad Abdi, yang turut hadir dalam panen perdana tersebut, memahami betul tantangan di balik keberhasilan yang diraih masyarakat. Menurutnya, mengajak nelayan tangkap untuk mencoba usaha budidaya ikan air tawar bukanlah perkara mudah. Laut telah lama menjadi identitas sekaligus sandaran hidup masyarakat Pelapis selama bertahun-tahun. “Alhamdulillah, budidaya ikan air tawar di Desa Pelapis ini hasilnya bagus,” ujarnya.
Mikrad menilai keberhasilan panen perdana ini membuka peluang besar bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Budidaya lele dapat menjadi sumber penghasilan tambahan, terutama ketika kondisi cuaca laut tidak bersahabat. Terlebih, pasar hasil produksi dinilai sudah jelas, karena Kawasan Industri Pulau Penebang siap menyerap ikan hasil budidaya warga. “Ke depannya, produknya bisa diakomodasi untuk konsumsi di Penebang. Ikan air tawar ini memang hal baru, tetapi sekarang anak-anak sudah mau mengkonsumsinya. Produknya diambil untuk Penebang,” jelasnya. Ia optimistis, apabila dikelola secara serius, usaha yang saat ini masih bersifat sampingan tersebut dapat berkembang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat. “Tidak selalu bisa ke laut karena faktor cuaca. Jadi budidaya lele ini bisa menjadi penghasilan tambahan dan perekonomian masyarakat pun bisa meningkat,” pungkasnya.
Apresiasi juga datang dari Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Hendra. Mantan Camat Kepulauan Karimata ini mengingatkan bahwa keberhasilan ini adalah awal dari proses panjang. “Ibarat anak baru lahir, belajar merangkak itu butuh proses. Sekali dua kali gagal itu biasa,” katanya memberi motivasi. “Yang penting, kita belajar dan terus maju.” Ia menilai Pelapis memiliki keunggulan yang belum tentu dimiliki peternak ikan di wilayah lain, yaitu kepastian pasar. “Kalau kita bekerja, yang membeli sudah ada,” ujarnya merujuk pada KIPP. “Tinggal kesiapan masyarakatnya.”
Ke depan, ia mendorong pengembangan budidaya tidak berhenti pada pembesaran ikan, tetapi juga merambah pembibitan dan pembuatan pakan mandiri. Dengan begitu, rantai nilai ekonomi bisa semakin panjang dan manfaatnya lebih besar bagi masyarakat.
Dari sisi perusahaan, Government Relation Manager KIPP, Seno Ario Wibowo, menyampaikan rasa syukur bisa menyaksikan langsung panen perdana tersebut. “Tiba saatnya kita merasakan jerih payah dalam mengembangkan budidaya lele yang alhamdulillah berhasil,” ujarnya. Seno menjelaskan program ini dirancang sebagai bantalan ekonomi, terutama pada musim paceklik. “Tidak perlu khawatir ikan lele ini akan dikemanakan,” tegasnya. “Kami menjamin hasil panen akan kami serap.”
Inovasi pun disiapkan. Berdasarkan masukan tenaga ahli dari IPB, ikan lele akan dimarinasi untuk memperpanjang masa simpan, mengingat keterbatasan fasilitas penyimpanan ikan segar di pulau. Ke depan, ibu-ibu di Pelapis akan dilibatkan dalam proses marinasi dan pengemasan vakum, membuka peluang ekonomi baru di tingkat rumah tangga.
Di ujung acara panen perdana, Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Hendra melantunkan pantun yang disambut senyum dan tepuk tangan warga:
Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi.
Kalau sudah budi daya lele ini menguntungkan, kenapa tidak kita coba lagi.