
Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi. Hal inilah yang dirasakan oleh empat anak muda asal Desa Pelapis, Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara: Claudia Renanda, Florencia Oktoria Ramadhani, Tira, dan Gilang Ramadan. Bagi mereka, pendidikan tinggi bukan sekadar pilihan, melainkan perjuangan panjang yang harus ditempuh sejak usia muda.
Lahir dan tumbuh di wilayah kepulauan membuat akses pendidikan menjadi terbatas. Untuk menempuh pendidikan sekolah menengah atas saja, mereka harus merantau jauh dari keluarga. Jarak, biaya, serta keterbatasan transportasi menjadi tantangan yang terus berulang, termasuk saat mereka memutuskan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Namun, keterbatasan tersebut tidak memadamkan mimpi. Kondisi ekonomi keluarga yang bergantung pada hasil laut dan musim ikan, serta akses transportasi yang tidak mudah, justru menguatkan tekad mereka. Keyakinan bahwa masa depan harus diperjuangkan menjadi alasan utama untuk berani meninggalkan kampung halaman demi pendidikan yang lebih baik.
Perjuangan empat anak muda ini sejalan dengan tantangan pembangunan sumber daya manusia di Kayong Utara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat yang dirilis pada awal November 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Kayong Utara tercatat sebesar 67,60, menempatkannya di posisi terakhir dari 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat. Meski demikian, angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 67,05, menjadi sinyal awal perbaikan pembangunan manusia di daerah ini.
Peningkatan IPM tentu tidak terjadi secara instan. Diperlukan upaya berkelanjutan yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan peningkatan pendapatan. Dalam aspek pendidikan, kisah Claudia, Florencia, Tira, dan Gilang menjadi potret nyata bagaimana perubahan dapat dimulai dari individu yang berani menembus batas. Mereka tidak hanya berjuang untuk masa depan pribadi, tetapi juga membawa harapan bagi keluarga dan lingkungan asalnya.
September lalu menjadi momentum penting bagi 16 mahasiswa asal Kayong Utara yang menerima beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Kayong Utara bersama PT Dharma Inti Bersama (DIB), perusahaan yang berinvestasi dalam pembangunan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Kecamatan Kepulauan Karimata. Empat di antaranya berasal dari Desa Pelapis.
Program beasiswa tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan mereka. Bantuan ini meringankan biaya pendidikan, tempat tinggal, hingga kebutuhan hidup sehari-hari. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para penerima, tetapi juga oleh keluarga mereka. Orang tua dapat bekerja dengan lebih tenang, sementara para mahasiswa dapat fokus belajar tanpa terbebani persoalan finansial.
Seiring berjalannya waktu, mimpi mereka pun semakin terarah. Claudia Renanda, mahasiswa Biologi di Universitas OSO, bercita-cita menjadi peneliti laut dan ingin berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat pesisir di Desa Pelapis. Tira, mahasiswa Akuntansi Universitas Tanjungpura (Untan), bermimpi berkarier di instansi pemerintah atau perusahaan multinasional dan menjadi sarjana pertama di keluarganya.
Sementara itu, Florencia Oktoria Ramadhani memandang pendidikan sebagai jendela untuk melihat dunia yang lebih luas. Ia bercita-cita melanjutkan studi ke jenjang S2, bahkan ke luar negeri, serta membangun usaha sendiri di masa depan. Adapun Gilang Ramadan, mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak, berharap dapat menjadi seorang engineer yang sukses, membanggakan orang tua, dan suatu hari memberangkatkan mereka menunaikan ibadah haji.
Meski memiliki cita-cita yang berbeda, keempatnya dipersatukan oleh semangat yang sama: membanggakan orang tua, meningkatkan taraf hidup keluarga, serta membawa perubahan positif bagi Kayong Utara, khususnya Desa Pelapis.
Program beasiswa yang dijalankan PT Dharma Inti Bersama bersama pemerintah daerah ini menjadi wujud sinergi dalam memajukan pendidikan. Lebih dari sekadar bantuan finansial, program ini membuka jalan bagi lahirnya generasi muda yang diharapkan mampu berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kayong Utara.
Dari desa kecil di wilayah kepulauan, harapan itu kini mulai berlayar lebih jauh.